Selasa, 20 Oktober 2020

BERBAGI INOVASI PEMBATIK MEWUJUDKAN MERDEKA BELAJAR


 Kegiatan pelatihan guru Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) telah mencapai level akhir (Level : Berbagi TIK) mengusung tema Berbagi inovasi Pembelajaran TIK Mewujudkan Merdeka BelajarSetelah dinyatakan lolos di level 4 di pembaTIK 2020. Kegiatan dimulai dengan kuliah umum yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 14 – 18 September 2020.

Hari pertama Senin, 14 September 2020 kuliah umum dibuka secara langsung oleh Medikbud RI Nadiem Makarim. Mas menteri menyatakan kebanggaannya atas peningkatan jumlah peserta yang mengikuti program pelatihan guru PembaTIK sebanyak 1000% peningkatan dari pertama kali kegiatan ini dilangsungkan 2 tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak guru yang ingin meningkatkan kemampuannya untuk mengimplementasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar.

Hari kedua, Selasa 15 September 2020 pada sesi pertama peserta belajar mengenai Kiat Sukses Pendidik Berkomunikasi Dengan Publik yang diberikan oleh seorang ahli publik speaking Cahrles Bonar Sirait yang selama ini dikenal dengan presenter handal juga seorang Founder CBS School of Communication. Sebagai Makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain, komunikasi merupakan salah satu sarana untuk terkoneksi dengan orang di sekitar kita. Dalam berkomunikasi sangat penting untuk bisa menyusun kata-kata menjadi sebuah informasi yang dapat dimengerti, berguna, dan menarik bagi orang lain baik secara langsung ataupun melalui sebuah media.

Ada 4 kiat dalam berkomunikasi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yaitu:

  1. Memahami pola komunikasi sederhana. Mengirimkan sebuah pesan dan dapat ditangkap oleh orang lain, serta mampu menyederhanakan supaya mudah dipahami oleh penerima pesan. Pendidik adalah seorang pemimpin, oleh karena itu harus mampu mempengaruhi dan meyakinkan peserta didik di dalam kelas.
  2. Impactful communication. Pendidik harus memiliki kekuatan untuk mendapatkan rasa simpati dari peserta didik ataupun dari orang lain. Komunikasi tidak semudah kita berbicara. Komunikasi harus memiliki ide, perencanaan, dan dipindahkan dengan berbagai macam cara atau media yang memberikan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat untuk orang lain.
  3. Persuasive communication. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mememengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku peserta didiknya atau orang lain sehing ga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan.Pendidik harus mampu memberikan suatu opini dalam pembelajaran.
  4. Personal branding. Bertujuan untuk membangun persepsi, asosiasi, dan harapan peserta didik ataupun pendidik lain terhadap kita. Personal branding juga sebagai upaya untuk menjual kelebihan diri kita. Pendidik harus memiliki pemikiran 5-10 tahun ingin menjadi pendidik yang seperti apa dan memberikan pengaruh apa.

Sesi kedua, materi diberikan oleh aktivis pendidikan dan pendiri Sekolah Rimba Butet Manurung. Kiprah dan sepak terjang beliau di dunia pendidikan Indonesia memang patut diperhitungkan terutama perjuangannya mencerdaskan masyarakat pedalaman. Dengan tema Belajar Dalam Mengajar. Menurut beliau Belajarlah dulu sebelum mengajar karena guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu merupakan sarana pendidikan, bukan tujuan!

Belajar merupakan proses tiada batas untuk itu seorang pendidik harus memperbaharui cara-cara mengajar yang disesuaikan dengan konteks peserta didik yang kita hadapi sesuai dengan karakter, lingkungan dan pola pikir yang berbeda-beda. Pendidikan harus kontekstual berdampak, artinya berkontribusi dalam kehidupan.

Sesi selanjutnya diisi oleh narasumber pakar yaitu Dirjen GTK Bapak Dr. Iwah Syahril, Ph.D. Beliau menerangkan tentang Kebijakan Pendidikan Terkait Guru dan Tenaga Kependidikan. Pada sesi ini beliau memfokuskan pada Guru dalam Perspektif Merdeka Belajar yaitu:

  1. Memandang Anak dengan Rasa Hormat. Pendidikan hanya ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya anak-anak. Guru yang memandang anak dengan rasa hormat akan menjadi guru pembelajar.
  2. Mendidik secara holistik. Dari pembelajaran Ki Hajar Dewantara pendidikan berlandaskan pada budi pekerti, artinya pendidikan harus melibatkan cipta, rasa, karsa sehingga pendidikan akan membawa kebijaksanaan.
  3. Mendidik secara relevan/kontekstual karena kodrat zaman berkembang secara terus menerus, oleh karena itu pembelajanpun harus selalu disesuaikan dengan zamannya. Hal ini akan memudahan pola komunikasi dan kebermanfaatan pembelajaran bagi peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GURU NGEVLOG

 Banyak ilmu dan pengetahuan juga keterampilan yang diperoleh dalam pembaTIK 2020 ini. Meski pelatihannya dilakukan secara daring, akhirnya ...