Rabu, 21 Oktober 2020

GURU NGEVLOG

 Banyak ilmu dan pengetahuan juga keterampilan yang diperoleh dalam pembaTIK 2020 ini. Meski pelatihannya dilakukan secara daring, akhirnya dapat juga menyelesaikan tagihan-tagihan di setiap levelnya. 

Tugas akhir di level 4 ini selain dituntut untuk berbagi dengan sesama rekan pendidik, SRB dituntut untuk menulis dalam blog dan ngevlog. Ini bukan untuk keren-kerenan lho, tapi banyak manfaat yang didapat selain lebih banyak berbagi lewat tulisan ataupun video mengenai praktik-praktik baik dalam pembelajaran, kita juga banyak mendapat ilmu bagaimana menulis yang baik, bagaimana membuat sebuah video yang ternyata sulit sekali, jadi merubah pandangan saya yang selama ini kadang menyepelekan drama-drama yang dibuat TV lokal. Banyak proses yang harus dilewati dalam membuat video tersebut ada proses desain, produksi dan editing. 

Sekarang gurupun gak mau kalah dengan kaum milenial, siap-siap untuk menjadi guru bloger dan guru vloger. 😀



SOSIALISASI RUMAH BELAJAR BERSAMA SRB OKI 2020

Setelah melewati perjalanan panjang di PembaTIK 2020 akhirnya sampai saya di level terakhir yaitu level 4. Dari beberapa peserta yang lulus di level dipilihlah 30 besar peserta terbaik masing-masing propinsi dan berhak mengikuti level 4 dan resmi menyandang gelar sahabat rumah belajar (SRB). 
Sesuai dengan jenjangnya level 4 ini dinamakan level berbagi, kami pun dipersiapkan melalui coaching oleh narasumber yang mumpuni di bidangnya masing-masing dan sebelumnya dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. 
Pada level berbagi ini, peserta dipersiapkan untuk dapat berbagi melalui berbagai cara yaitu berbagi lewat tulisan dengan membuat blog dan menulis di media sosial untuk menggaungkan portal rumah belajar, berbagi lewat vlog dengan membuat konten video mengenai inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan portal rumah belajar serta berbagi secara langsung baik secara tatap maya melalui video converence maupun melalui tatap maya yang tentu saja mematuhi protokol kesehatan mengingat pandemi covid 19 ini belum juga berakhir. 

Dan saya pun memilih berbagi lewat tatap muka secara langsung mengingat daerah kami Kabupaten Ogan Komering Ilir masih tergolong daerah sedang dan memungkinkan untuk mengadakan tatap muka. Dalam melakukan kegiatan berbagi ini, saya berkolaborasi dengan sahabat saya Ulva Kasmarantina Anggraini, S.Pd, beliau merupakan rekan mengajar di SMA Negeri 1 Kayuagung. Selain Ibu Ulva kami pun menghubungi sahabat rumah belajar yang berasal dari kabupaten OKI juga yaitu Bapak Ibnu Anwar, S.Pd. Beliaua mengajar di SD Negeri 1 Mulya Guna Kecamatan Teluk Gelam yang jaraknya kurang lebih 30 km dari Kayuagung. Dan ternyata bapak satu ini asyik juga dan sangat oke banget diajak bekerja sama dalam sebuah tim. Yah.....akhirnya kamipun menjadi sebuah tim yang solid, bagi kami dapat berbagi dengan rekan-rekan pendidik yang ada di daerah kami menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri.


Kegiatan kami diawali dengan menghubungi rekan-rekan pendidik baik dari tingkat SD, SMP dan SMA ataupun SMK untuk memberitahukan adanya kegiatan sosialisasi yang akan kami lakukan. Selain itu kami juga gencar menulis kegiatan pembaTIK ini di media sosial yang kami ikuti dengan menyebar flyer kegiatan berbagi dan luar biasa efek media sosial ini membuat kami dikenal oleh teman-teman di media sosial sehingga beberapa rekan guru menghubungi dan mengundang kami di sekolah mereka. 

Kemudian kami menghadap pihak yang terkait yaitu koordinator wilayah (korwil) di Teluk Gelam sehubungan meminta izin untuk melakukan kegiatan berbagi, dan bersyukurnya disambut hangat oleh Pak Mukhlis, S.Pd selaku korwil Teluk Gelam. Kamipun mengantongi  izin dari beliau, dan kami pun menunggu jadwal pelaksanaannya.

Kemudian kami diundang oleh Kepala Sekolah Alam Kayuagung yang merupakan sekolah swasta berkonsep pendidikan alam menaungi pendidikan tingkat TK dan SD. Di Sekolah Alam ini merupakan sekolah pertama kami melakukan kegiatan sosialisasi pemanfaatan portal rumah belajar ini. Kegiatan kami lakukan pada hari Jumat tanggal 2 Oktober 2020, kamipun berbagi dalam tim masing-masing mengenalkan dan menyebarkan praktik baik dalam memanfaatkan fitur-fitur yang ada di portal Rumah Belajar, mulai dari sumber belajar, bank soal, laboratorium maya dan kelas maya. Antusias para guru di sekolah ini yang berjumlah 15 orang sangat luar biasa mungkin karena guru-gurunya masih muda dan memang keinginan untuk belajar sangat tinggi, sosialisasi pun berlanjut dengan pelatihan membuat media pembelajaran berupa video pembelajaran seperti yang ada di fitur rumah belajar. Dan memang pembelajaran jarak jauh ini merupakan tantangan tersendiri bagi anak-anak tingkat SD dan TK sehingga guru harus lebih kreatif dan mencari strategi dan media yang tepat untuk digunakan belajar dari rumah.

Kegiatan berbagi kedua Sabtu tanggal 10 Oktober 2020, kami diundang oleh PAUD Anggrek 1 desa Mulya Guna yang dihadiri oleh 13 orang guru PAUD yang ada di desa Mulya Guna. Di desa ini memiliki 6 lembaga PAUD karena memang populasi penduduk di desa ini sangat banyak. Dan yang membuat saya kagum di kegiatan ini dihadiri juga oleh wali murid yang ingin mengetahui bagaimana sih belajar jarak jauh agar beliau dapat mengimbangi dan mendampingi sang anak saat belajar dari rumah. Meskipun rekan-rekan guru PAUD ini berada di daerah namun kemampuan penguasaan IT mereka sudah bagus sehingga bagaimana kami mengajarkan praktik baik menggunakan rumah belajar dan membuat media pembelajaran sangat mudah diserap oleh mereka. Melihat wajah-wajah puas dar mereka membuat hati menjadi lebih semangat untuk berbagi.



Kegiatan ketiga kami lakukan di sekolah kami sendiri yaitu SMA Negeri 1 Kayuagung pada hari Senin dan Selasa tanggal 12 - 13 Oktober 2020. Kegiatan kami lakukan selama 2 hari dikarenakan di sekolah diberlakukan piket, sehingga memungkinkan untuk guru yang tidak hadir di hari pertama dapat mengikuti di hari kedua. Kegiatan ini diikuti oleh peserta sebanyak 28 orang. Pada pertemuan kali ini saya berkesempatan untuk mengenalkan bagaimana memanfaatkan fitur kelas maya dan laboratorium maya pada rekan-rekan guru. 






Kemudian pada hari Kamis 15 Oktober kami mendapat kehormatan untuk dapat bergabung pada kegiatan Pembelajaran Berbasis TIK di Era Pandemi Covid 19 bagi guru SMA/SMK sekabupaten Ogan Komering Ilir yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan UPTD Balai Teknologi Informasi Komunikasi Pendidikan (UPTD BTIKP). Kegiatan ini berlangsung di SMK Negeri 1 Kayuagung yang diikuti oleh 30 orang guru SMA dan SMK.  Disini tim SRB dari kabupaten Ogan Komering Ilir bersama DRB tahun 2017 Pak Taufik S.Pd, mendapat kesempatan untuk mengenalkan penggunaan portal rumah belajar lengkap dengan keempat fitur utamanya dalam kegiatan pembelajaran berbasis TIK. 







Kalau tadinya kami sudah berbagi dari tingkat PAUD, TK, SD, SMA/SMK kegiatan terakhir kami berbagi dengan guru SMP yang diselenggarakan di SMP Negeri 6 Kayuagung pada Jumat 16 Oktober dan diikuti oleh 13 orang guru dari beberapa guru SMP Kayuagung. Saya menyampaikan pemanfaatan  fitur kelas maya dalam pembelajaran daring. 




Selain dalam mensosialisasikan praktik baik dalam pemanfaatan fitur-fitur dalam rumah belajar kami juga memberikan tambahan pelatihan sesuai dengan permintaan peserta misalnya ada yang meminta pembuatan video pembelajaran dan mengedit video secara sederhana dengan menggunakan aplikasi Kinemaster juga ada yang minta diajarin bagaimana cara membuat google classroom atau google form, semua kami layani dan tentunya tidak melupakan tujuan utma kami adalah bagaimana menyampaikan praktik baik inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran menggunakan portal rumah belajar.

Sungguh setelah mengikuti program berbagi di level 4 ini memperkaya pengalaman saya juga menambah jejaring mulai dari tingkat PAUD sampai tingkat SMA/SMK. Melihat kesungguhan dan minat yang tinggi dari rekan-rekan pendidik untuk belajar dan belajar lagi mengupgrade diri menghadapi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini memaksa kita semua para pendidik untuk terus belajar mengikuti perkembangan TIK. Meski masa berbagi di level 4 pembaTIK ini berakhir tidak berarti berakhir pula kegiatan kami untuk terus berbagi karena setelah ini masih ada beberapa undangan dari rekan-rekan pendidik dari MGMP yang mengantri untuk kami datangi. 

ahhhhh..... Berbagi itu memang indah dan membahagiakan, apalagi apa yang kita bagi itu sangat bermanfaat dan dapat diterapkan rekan-rekan pendidik dalam pembelajaran yang kini lebih banyak berbasis TIK di masa pandemi ini.

Terima kasih teman satu timku SRB OKI, para DRB Sumsel, para fasilitator dari Pusdatin, sahabat-sahabat rumah belajar level 4 baik dari Sumsel ataupun seluruh Indonesia, kalian memang luar biasa!

#PembaTIK2020 #pembatiklevel4 #guruberbagi #MerdekaBelajar



Selasa, 20 Oktober 2020

BERBAGI INOVASI PEMBATIK MEWUJUDKAN MERDEKA BELAJAR


 Kegiatan pelatihan guru Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) telah mencapai level akhir (Level : Berbagi TIK) mengusung tema Berbagi inovasi Pembelajaran TIK Mewujudkan Merdeka BelajarSetelah dinyatakan lolos di level 4 di pembaTIK 2020. Kegiatan dimulai dengan kuliah umum yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 14 – 18 September 2020.

Hari pertama Senin, 14 September 2020 kuliah umum dibuka secara langsung oleh Medikbud RI Nadiem Makarim. Mas menteri menyatakan kebanggaannya atas peningkatan jumlah peserta yang mengikuti program pelatihan guru PembaTIK sebanyak 1000% peningkatan dari pertama kali kegiatan ini dilangsungkan 2 tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak guru yang ingin meningkatkan kemampuannya untuk mengimplementasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar.

Hari kedua, Selasa 15 September 2020 pada sesi pertama peserta belajar mengenai Kiat Sukses Pendidik Berkomunikasi Dengan Publik yang diberikan oleh seorang ahli publik speaking Cahrles Bonar Sirait yang selama ini dikenal dengan presenter handal juga seorang Founder CBS School of Communication. Sebagai Makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan orang lain, komunikasi merupakan salah satu sarana untuk terkoneksi dengan orang di sekitar kita. Dalam berkomunikasi sangat penting untuk bisa menyusun kata-kata menjadi sebuah informasi yang dapat dimengerti, berguna, dan menarik bagi orang lain baik secara langsung ataupun melalui sebuah media.

Ada 4 kiat dalam berkomunikasi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yaitu:

  1. Memahami pola komunikasi sederhana. Mengirimkan sebuah pesan dan dapat ditangkap oleh orang lain, serta mampu menyederhanakan supaya mudah dipahami oleh penerima pesan. Pendidik adalah seorang pemimpin, oleh karena itu harus mampu mempengaruhi dan meyakinkan peserta didik di dalam kelas.
  2. Impactful communication. Pendidik harus memiliki kekuatan untuk mendapatkan rasa simpati dari peserta didik ataupun dari orang lain. Komunikasi tidak semudah kita berbicara. Komunikasi harus memiliki ide, perencanaan, dan dipindahkan dengan berbagai macam cara atau media yang memberikan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat untuk orang lain.
  3. Persuasive communication. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mememengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku peserta didiknya atau orang lain sehing ga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan.Pendidik harus mampu memberikan suatu opini dalam pembelajaran.
  4. Personal branding. Bertujuan untuk membangun persepsi, asosiasi, dan harapan peserta didik ataupun pendidik lain terhadap kita. Personal branding juga sebagai upaya untuk menjual kelebihan diri kita. Pendidik harus memiliki pemikiran 5-10 tahun ingin menjadi pendidik yang seperti apa dan memberikan pengaruh apa.

Sesi kedua, materi diberikan oleh aktivis pendidikan dan pendiri Sekolah Rimba Butet Manurung. Kiprah dan sepak terjang beliau di dunia pendidikan Indonesia memang patut diperhitungkan terutama perjuangannya mencerdaskan masyarakat pedalaman. Dengan tema Belajar Dalam Mengajar. Menurut beliau Belajarlah dulu sebelum mengajar karena guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu merupakan sarana pendidikan, bukan tujuan!

Belajar merupakan proses tiada batas untuk itu seorang pendidik harus memperbaharui cara-cara mengajar yang disesuaikan dengan konteks peserta didik yang kita hadapi sesuai dengan karakter, lingkungan dan pola pikir yang berbeda-beda. Pendidikan harus kontekstual berdampak, artinya berkontribusi dalam kehidupan.

Sesi selanjutnya diisi oleh narasumber pakar yaitu Dirjen GTK Bapak Dr. Iwah Syahril, Ph.D. Beliau menerangkan tentang Kebijakan Pendidikan Terkait Guru dan Tenaga Kependidikan. Pada sesi ini beliau memfokuskan pada Guru dalam Perspektif Merdeka Belajar yaitu:

  1. Memandang Anak dengan Rasa Hormat. Pendidikan hanya ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya anak-anak. Guru yang memandang anak dengan rasa hormat akan menjadi guru pembelajar.
  2. Mendidik secara holistik. Dari pembelajaran Ki Hajar Dewantara pendidikan berlandaskan pada budi pekerti, artinya pendidikan harus melibatkan cipta, rasa, karsa sehingga pendidikan akan membawa kebijaksanaan.
  3. Mendidik secara relevan/kontekstual karena kodrat zaman berkembang secara terus menerus, oleh karena itu pembelajanpun harus selalu disesuaikan dengan zamannya. Hal ini akan memudahan pola komunikasi dan kebermanfaatan pembelajaran bagi peserta didik.

Materi: KETENAGAKERJAAN

 Assalammualaikum wrwb

Perkenalkan nama saya Yulinda Sari, saya terlahir dari keluarga besar, saya anak ke sembilan dari 12 bersaudara.  Ayah saya seorang pekerja keras yang berjuang menghidupi untuk anak-anaknya yang seperti tim sepakbolan beserta wasitnya dengan mengais rezeki Allah sebagai seorang pedagang. Orang tua saya menginginkan semua anak-anaknya harus mendapatkan pendidikan tinggi karena menurut mereka dengan pendidikan dapat merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Mereka bercita-cita anak-anaknya menjadi orang yang berhasil apapun bidang pekerjaan yang akan dilakoni. Bagi mereka berhasil bukan diukur menjadi seorang pegawai negeri, tapi berhasil menurut mereka adalah  bemanfaat bagi orang banyak, entah dengan ilmunya, hartanya, ataupun tenaganya. Semakin dewasa saya menyadari hebatnya orang tua saya dalam kesederhanaannya memahami tujuan Allah menciptakan manusia sebagai rahmatan lil alaamiin. Merekalah yang menjadi sosok idola dan panutan saya sejak kecil setelah rasulullah Muhammad SAW.

Dulu saat masih kecil saya bercita-cita yang kebanyakan anak kecil sebutkan yaitu ingin menjadi dokter. Namun cita-cita hanyalah sebuah cita-cita tanpa ada usaha yang keras seperti belajar dengan tekun, yang saya sadari betul tidak terlalu giat belajarnya. Saat memasuki SMA dan saya berhasil masuk ke sekolah pavorit di kotaku,  ayah pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sempat terpikir oleh saya dan saudara-saudara untuk berhenti sekolah dan bekerja saja membantu ibu yang harus berjuang seorang diri. Namun ibu berkeras mewujudkan cita-cita ayah menyekolahkan anak-anaknya dengan mengambil alih peran ayah sebagai pedagang. Ibu juga dibantu saudara-saudara saya yang lebih tua telah menyelesaikan pendidikannya dan bekerja dalam membiayai pendidikan adik-adiknya. Karena terbawa perasaan ditinggal pergi ayah, saya pun mulai malas-malasan sekolah dan akibatnya berpengaruh terhadap nilai raport saya. Saat penjurusan di kelas 2 (kalau sekarang kelas XI) SMA saya masuk di jurusan IPS (di zaman saya penjurusan di kelas 2). Dan terkuburlah cita-cita menjadi dokter.

Saat itu menjadi titik balik kesadaran saya bahwa apa yang saya cita-citakan harus saya perjuangkan dari sekarang. Saya teringat pengorbanan almarhum ayah, ibu yang seorang janda untuk pendidikan saya, saya harus berjuang!!!. Berawal mengenali diri saya sendiri, apa sih kemampuan saya, saya suka bidang apa, apa yang bisa saya lakukan dan apa kesempatan yang terbuka untuk saya di masa depan.

Karena saya menyukai pelajaran matematika, meskipun saya terdampar di jurusan IPS membuat saya menyukai pelajaran Akuntansi yang pastinya mengandalkan kemampuan berhitung. Saya pun bercita-cita ingin bekerja di bidang keuangan, misalnya menjadi seorang pegawai bank, jadi akuntan di perusahaan besar atau di pemerintah, sukur-sukur bisa menjadi seorang pengusaha. Saat itu saya tidak pernah berpikir mau menjadi seorang designer baju, menjadi chef, menjadi make up artis atau pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tertentu yang didapat melalui pelatihan atau kebiasaan, padahal pekerjaan tersebut  menjanjikan lho.

Yang pasti saya tidak pernah mau menjadi kuli bangunan, kuli angkut pasar atau menjadi pembantu rumah tangga. Makanya saya bertekad harus sekolah yang tinggi.

Nah…. untuk mencapai cita-cita saya pun mulai dengan belajar dengan tekun, dan meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA dengan baik, saya pun melanjutkan ke perguruan tinggi seperti jejak kakak-kakak saya, yang pastinya saya memilih universitas negeri dengan perhitungan biayanya pasti lebih murah daripada di swasta. Saya memilih Universitas Sriwijaya Fakultas Keguruan dan Pendidikan jurusan pendidikan ekonomi akuntansi  sesuai dengan minat saya di pelajaran tersebut. Saya pun berusaha menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi ini dengan baik, dan memperoleh beasiswa yang pastinya membantu biaya pendidikan saya. Profesi guru menjadi pilihan agar kelak mempunyai manfaat bagi orang banyak terutama siswa saya dan ini sesuai dengan keinginan kedua orang tua saya.

Saat wisuda saya tidak dapat menahan haru saat menyerahkan ijasah saya kepada ibu dan memberikan kebanggaan padanya bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Namun perjuangan belum selesai guys, saya harus mulai mencari pekerjaan. Saya mendapat tawaran untuk menggantikan teman kuliah sebagai guru honor di salah satu SMA di kotaku, karena temanku ingin fokus meneyelesaikan skripsinya karena kebetulan saya terlebih dulu tamat jadi saya terima dulu, karena kupikir ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan meskipun honornya tidak seberapa setidaknya karena statusnya, namun saya bisa belajar dan latihan bagaimana mengajar yah anggap saja magang.

Tidak lama saya mendengar ada lowongan untuk menjadi seorang surveyor kerjasama antara Universitas Gajah Mada Jogjakarta dan sebuah lembaga penelitian Amerika yang bernama Research and Development (RAND). Saya mencoba masukkan lamaran dan mengikuti serangkaian tes dan wawancara, Alhamdulillah dari beberapa pelamar saya terpilih menjadi tim Indonesia Family Live Survey (IFLS) atau Survei Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) yang ditugaskan di Sumatera Selatan.

Setelah itu kami diwajibkan untuk mengikuti pelatihan selama 2 bulan di sebuah hotel berbintang 5 di kota Solo Jawa Tengah. Inilah pengalaman pertama saya keluar kota Palembang dalam jangka waktu lama dan tinggal di hotel berbintang selama 2 bulan dan bagi saya wow bingits. Selesai pelatihan kami dikontrak selama 1 tahun untuk mulai pekerjaan mensurvei responden di seluruh pelosok Sumatera Selatan. Selain mendapat honor yang lumayan banget karena sesuai standard Amerika, saya juga mendapat pengalaman luar biasa selama keliling Sumatera Selatan. Namun karena pekerjaan sebatas kontrak, setelah itu saya menganggur lagi.

Selanjutnya saya kembali memasukkan lamaran di salah satu perusahaan Jepang di daerah industry Jawa Barat tepatnya Bekasi, dan mengikuti berbagai tes dan wawancara oleh direkturnya orang Jepang, walau dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas akhirnya saya diterima. Karena perusahaan tersebut bergerak di bidang memproduksi elektronik dan saya ditempatkan dibagian gudang sebagai Leader dan membawahi beberapa anak buah, saya harus belajar lebih keras lagi untuk memahami apa pekerjaan saya yang tidak pernah sama sekali saya pelajari sebelumnya di bangku sekolah, dari mulai material pabrik sampai memanage bawahan saya. Ketika saya mulai terbiasa dan menguasai pekerjaan saya, saya mendapat berita ibu saya sakit dan saya memutuskan untuk pulang ke Palembang dan merawat ibu saya, toh kapan lagi saya mengabdi kepada orang tua saya, meski bukan dengan harta setidaknya saya masih punya kesempatan dekat dengan beliau.

Selain merawat ibu saya, saya kembali menjadi guru honor di beberapa SMA di kota saya, juga menjadi guru privat anak tetangga saya yang tidak ada ikatan apapun. Kemudian ada program guru kontrak dari pemerintah saya ambil kesempatan tersebut. Dan usaha tidak akan pernah menghianati hasil ditambah lagi doa dari ibu saya, sampai akhirnya saya pun diangkat menjadi guru Pegawai Negeri Sipil di sekolah tersebut. Sayangnya saat saya diangkat menjadi PNS tersebut, ibu saya telah pergi untuk selama-lamanya.

Setelah mendapatkan pekerjaan yang tetap saya tetap memaksa diri saya belajar dan belajar lagi, baik secara formal maupun informal saya melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 2 jurusan Teknologi Pendidikan di universitas sama saat Strata 1 dan Alahmdulillah saya mendapatkan beasiswa dari dinas pendidikan. Selain itu saya selalu mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan profesi saya yaitu sebagai guru.

Saya teringat pesan orang tua saya selalu ada rezeki untuk pendidikan jika kamu mau dan sebaik-baiknya pekerjaan adalah bermanfaat bagi orang banyak. Keberhasilan tidak selalu karena IQ yang tinggi namun lebih banyak dipengaruhi oleh ketekunan, semangat juang, dan tentunya doa kepada Yang Maha Kuasa Allah SWT. Terus meng-upgrade diri baik kemampuan intelektual, emosi dan yang terpenting spiritual.

Wassalammualaikum wrwb

Note:

Tulisan ini adalah latihan saya menulis dan juga sebagai bahan materi siswa saya di kelas XI SMA dalam KETENAGAKERJAAN, pada pertemuan pertama siswa membaca cerita tersebut kemudian diminta untuk memahami dan menuliskan pokok materi yang berkaitan dengan:

  1. Pengertian Tenaga kerja, Angkatan kerja, Usia Kerja dan kesempatan kerja.
  2. Apa saja jenis-jenis tenaga kerja menurut kualitas dan statusnya
  3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesempatan kerja
  4. Sistem upah

Saya berharap dapat memotivasi peserta didik saya melalui tulisan tentang pengalaman hidup saya yang tidak seberapa, untuk berjuang meraih cita-cita dan harapannya di masa depan, dengan menugaskan setiap siswa membuat tulisan mengenai dirinya sendiri, apa cita-citanya, hobi dan bakat, serta langkah-langkah apa yang harus mereka lakukan untuk meraih cita-citanya tersebut di pertemuan kedua.

PERJALANAN MENUJU LEVEL 4 DI PEMBATIK 2020


Bagi sebagian orang, pandemi virus corona yang meminta kita banyak berdiam diri di rumah membawa berkah tersembunyi, alias
blessing in disguise. Mereka yang tadinya hanyut dalam hiruk pikuk keseharian, memiliki waktu luang disela mengerjakan pekerjaan dari rumah. Beragam pilihan yang dilakukan orang, ada yang mengembangkan hobi seperti yang lagi tren saat ini berkebun atau bercocok tanam mulai dari menanam bunga, sayuran, buah-buahan.

Ada juga yang mengembangkan kemampuan memanjakan lidah dan perut anggota rumahnya dengan mengasah kemampuan memasak baik mengikuti kursus langsung ataupun lewat daring karena banyak sekali tutorial yang ada di internet , tinggal ketik apa yang kita mau dan klik langsung deh muncul (syaratnya ada quota donk ðŸ˜€)
Ada juga yang mulai budi daya ikan dalam ember (budikdamber)
Dan semua hobi tersebut dapat menjadi peluang bisnis dari rumah lho jika dilakoni dengan tekun.

Menyadari perubahan gaya belajar saat ini yang lebih banyak berhubungan dengan Teknologi dan Informatika, aku pun mencoba mencari informasi bagaimana sih pembelajaran berbasis TIK dan jari jemari ini tak sengaja mengklik SIMPATIK dan PEMBATIK dari kemdikbud.go.id. Jujur aku sendiri tidak mengerti dengan program ini.

Setelah dipelajari SIMPATIK itu merupakan singkatan dari Sistem Informasi Manajemen Pelatihan Berbasis TIK) dan PEMBATIK singkatan dari Pembelajaran berbasisi TIK merupakan program Peningkatan Kompetensi TIK guru yang mengacu pada kerangka kerja peningkatan kompetensi TIK Guru UNESCO. Standar kompetensi TIK ini terdiri dari 4 level, yaitu level literasi, implementasi, kreasi, dan berbagi (4i leveling) (yahhhhh.....kirain tadi motif batik yang ada di kain atau daster ðŸ¤­).
Iseng-iseng daftar ajalah siapa tahu ada pertemuan tatap muka dan bisa ngebolang pelatihan di luar kota (ngarep). Di PEMBATIK ini ada 4 level yaitu:

Bimtek daring level 1 (Literasi TIK), aku mendapat kesempatan di gelombang 8 dengan peserta sebanyak 2.000 orang dari seluruh Indonesia mulai dari 27 April sampai 6 Mei 2020, disini kita belajar mulai dari awal yaitu:Pengenalan Perangkat TIK Dasar,Internet untuk pembelajaran,Internet sehat, bijak dan aman Aplikasi untuk pembelajaran

Nah untuk naik level ada ujiannya juga tanggal 7-8 Mei, cuma karena merasa iseng tanpa persiapan, aku ujiannya ngasal sambil masak untuk berbuka (lagi bulan puasa) jadi ga konsen deh. Alhasil aku ga lulus. Jadi pembelajaran diri kalau ingin berhasil harus persiapan dan kudu serius guys. Yah wes lah kupikir lewat deh pelatihan ini.

Tiba-tiba aku dihubungi sohibku Ulva Kasmarantina Anggraini memberitahukan ada program remedialnya tanggal 20-30 Mei, dia terus mendorong ikut lagi dan harus berhasil. Akhirnya aku pun mendaftar di program remedial di gelombang 1dan ternyata banyak juga peserta yang remedial 2.000 orang di setiap gelombang. Alhamdulillah remedial level 1 terlewati dengan baik dan lanjut ke level 2.

Bimtek level 2 (Implementasi TIK) aku mendaftar di gelombang 17 pada tanggal 5 Juni sampai 5 Juli 2020 dengan 845 peserta.
Materi pelatihan kali ini sudah mulai agak berat yaitu: Penerapan Pembelajaran Abad 21 Memanfaatkan Rumah Belajar, Penerapan pembelajaran menggunakan fitur-fitur rumah belajar, Penerapan pembelajaran menggunakan media TV Edukasi, radio suara edukasi, dan m –edukasi, Pengelolaan Kelas yang Mengintegrasikan TIK dalam Lingkungan Belajar

Selain harus mengikuti ujian akhirnya, peserta diwajibkan membuat video pembelajaran mengenai model-model pembelajaran yang digunakan secara daring dan inilah awalnya aku membuka akun di chanel youtube karena tugasnya harus diunggah disitu dan dirimkan tautannya sebagai tugas level 2. Beruntungnya mempunyai teman-teman yang selalu mensupport, proses pengambilan video, dan proses editing aku dibantu anak-anak didik yang hebat di SMAN 1 Kayuagung. Lagi-lagi keberuntungan di pihakku dan tentu saja karunia Allah, level 2 terlampaui dengan baik. Dan lanjut mendaftar di level 3.

Bimtek daring level 3 (Kreasi TIK), aku mendaftar di gelombang 15 yang berlangsung dari tanggal 21 Juli sampai 20 agustus 2020. Pada pelatihan level ini mempelajari tentang:
Media Pembelajaran Berteknologi Digital, Pembuatan Media Video Pembelajaran, Pembuatan multimedia/multimedia interaktif, Inovasi Pembelajaran yang Mengintegrasikan TIK.

Di level ini tantangannya semakin berat, karena peserta dituntut untuk dapat membuat video pembelajaran atau media pembelajaran interaktif (MPI) sebagai tugas akhirnya, selain itu ada forum diskusi melalui zoom dan menulis essay tentang isi modul. (Oh ya setiap level ada 4 modul yang harus dipelajari).
Untuk tugasnya aku bingung mau buat apa, apakah video pembelajaran ataukah MPI. Dengan modal nekat karena minim pengetahuan jadi belajar dulu membuat desain video dulu, take video kemudian belajar mengedit video. Dikenalin dengan aplikasi Kinemaster dan Camtasia. Aku ambil kinemaster, jadilah mengerti tiga bentuk edit atau penyambungan gambar yaitu : Cut, Mix, dan Fade.
Namun setelah melihat hasil akhirnya, aku ngga percaya diri, jadi aku putar haluan membuat Media pembelajaran interaktif (MPI) saja. Articulate Storyline, Lectora, Ispring dan Exe Learning merupakan contoh authoring tools yang dapat digunakan dalam membuat MPI. Dan akhirnya aku memilih Articulate Storyline (AS3) karena memiliki kemudahan dalam penggunaanya dan output yang dihasilkan dapat dipublish dalam format berbagai format termasuk HTML5, dan ini sesuai yang diajarkan modul 11. Karena masih awam dan belum pernah sama sekali mengenal AS3 rasanya sulit sekali, namun sering mengikuti diskusi dan petunjuk dari rekan-rekan peserta di grup telegram level 3 gelombang 15 yang memang luar biasa semangat belajarnya dan itu menjadi infus positif bagi diriku untuk bisa menyelesaikan tugas ini. Saling support, saling berbagi informasi dan saling mengajari dengan peserta seluruh Indonesia dan juga arahan dari fasilitator (Duta Rumah Belajar), kadang saling bercanda, saling memperkenalkan kuliner daerah masing-masing, meski semua kami lakukan lewat telegram, tidak mengurangi keakraban sesama peserta.
Dari 733 peserta di gelombang 15 level ini hanya 417 orang yang lulus, dan lagi-lagi Alhamdulillah keberuntungan masih di pihakku aku pun lulus meski tanpa ditunjukkan nilai akhirnya. Hal ini penting sekali karena untuk lanjut ke level selanjutnya hanya dipilh 30 orang peserta dengan nilai terbaik. Hmmm….. jadi deg-degan kepilih ngga yaaaa…. karena selain pengen lanjut juga ngarep siapa tahu ada tatap muka di ibukota sana (jiwa ngebolang meronta-ronta hihihi…)

Dan Qadarullah…. diriku terpilih dalam 30 besar propinsi Sumatera Selatan bersama rekanku Ulva Kasmarantina Anggraini dan melaju di level terakhir dan statuspun berubah menjadi Sahabat Rumah Belajar (SRB).
Tetap bersyukur meski pada level ini tiada tatap muka karena perkembangan virus kembali meningkat dan kembali belajar secara online kembali. 

Hanya karena curahan kasih sayang Allah yang memberikan kesempatan pada diri yang awam ini untuk terus belajar dan belajar lagi. Tiada target apa-apa mengikuti ini hanya niatan untuk belajar kembali, mengupgrade diri mengikuti perkembangan zaman dengan tuntutan penguasaan TIK yang semakin berkembang, serta di level ini mendapatkan kesempatan berbagi ilmu dengan sesama reka pendidik.

Oke, Yuks Belajar lagi……..

Merdeka Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia

#PusdatinKemendikbud #PembaTIK2020 #DutaRumahBelajar2020 #RumahBelajar2020 #BerbagiTIK

SEKELUMIT CERITA DIBALIK BLOG

Lama sekali tak menyentuh dan menorehkan tulisan-tulisan di dalam blog. Setelah satu dasawarsa yang lalu kegiatan menulisku dalam sebuah blog berakhir namun apalah daya kemampuan bernarasi semakin berkurang dan terbatas.
Semua yang dilakukan ala bisa karena terpaksa atau dalam bahasa Palembang "bawaan kepepet" semua pasti bisa. 
Dengan terpaksa membuat blog baru disaat kepepet hehehehe....

Dulu blog pertama di buat karena tugas dari kampus Teknologi Pendidikan, yang tadinya bisa kumanfaatkan untuk memenuhi tugas di pembaTIK 2020 namun apalah daya tak bisa kurenovasi ataukah karena ketidakpahaman ku dalam dinia per BLOG an dan sekarang karena tuntutan tugas di pembaTIK 2020 yah I'm here

Semoga bisa membangkitkan kembali kemampuan dan kemauan menulisku di sini, menebar ilmu dan pengetahuan di dunia pendidikan.

21 Oktober 2020

GURU NGEVLOG

 Banyak ilmu dan pengetahuan juga keterampilan yang diperoleh dalam pembaTIK 2020 ini. Meski pelatihannya dilakukan secara daring, akhirnya ...